Minggu, 17 November 2013

Pada Mulanya: Kematian

Pada Mulanya: Kematian
Oleh Bernard Batubara


Pada Mulanya

Meskipun saya telah mengetahui bahwa saya, dan kita semua, adalah makhluk biologis yang hidup dan kelak akan mati, saya tetap merasa takut dengan kematian. Setiap berbicara soal kematian, bahkan hanya sekadar mengingat hal apapun tentang kematian, saya merasa seolah-olah apapun yang saya lakukan dalam hidup ini, semua rencana dan cita-cita saya, prestasi dan hal-hal yang telah saya kumpulkan seumur hidup saya, seperti tak berarti apa-apa. Kelak, ketika saya mati, saya tahu hal-hal seperti itu tak berarti apa-apa lagi dan menjadi hal yang paling tidak signifikan di hadapan kematian.

Dahulu, saya selalu merasa kematian berada begitu jauh dari saya. Seperti, saya sedang berada di dalam kamar di rumah orangtua saya, dan kematian berada di ujung dunia. Saya merasa jarak saya dengan kematian begitu jauh dan tak akan tertempuh dalam waktu yang sebentar. Saya merasa kematian adalah orang asing yang tak saya kenal dan ia pun tak mengenal saya, dan kecil kemungkinannya bagi kami untuk saling kenal. Saya merasa kematian begitu sibuk dengan pekerjaannya menemui orang-orang asing lain dan saya bukanlah subjek yang menarik bagi dirinya untuk saat ini.

Saya melihat kematian di mana-mana, setiap hari, dan hal tersebut tidak mengubah perasaan saya bahwa kematian masih berjarak demikian jauh dari saya. Saya merasa bahwa saya masih begitu muda dan terlalu dini untuk mati. Bahwa banyak orang yang jauh lebih muda dari saya dan mereka telah mati, itu hal lain bagi saya. Saya merasa masih banyak hal yang akan dan harus saya lakukan, dan demikian saya percaya Kematian masih memberi saya waktu, yang cukup panjang, untuk melakukan hal-hal yang ingin saya lakukan.

Belakangan saya tahu, mengapa saya merasa kematian masih sangat jauh padahal saya melihatnya setiap hari, yakni, mungkin, karena orang-orang yang dihampiri Kematian adalah orang-orang yang tidak saya kenal. Saya tidak mengenal bayi yang mati dibunuh orang tuanya sendiri itu. Saya tidak mengenal remaja yang mati gantung diri sebab diputuskan cintanya oleh kekasihnya itu. Saya tidak mengenal perempuan yang mati dibakar oleh suaminya yang cemburu sebab mencurigai istrinya selingkuh itu. Saya tidak mengenal mereka semua, sebab itu saya merasa kematian masih berada begitu jauh dari saya.

Hingga adik lelaki saya meninggal pada tahun 2007 di usianya yang kedelapan karena penyakit usus buntu. Saya berusia delapanbelas tahun saat itu. Ketika mendengar kabar itu dari ayah, saya masih tidak percaya apa yang telah terjadi. Saya masih merasa kemtian berada begitu jauh dari kami. Saya masih merasa kematian sedang sibuk menghampiri orang-orang lain, orang-orang asing yang tidak saya kenal. Tetapi sekarang saya harus menghadapi kenyataan yang mengejutkan dan tidak pernah saya sangka bahwa kematian telah menghampiri adik kandung saya sendiri, orang yang sangat saya kenal.


Mencari Kematian

Saya ingat sebuah adegan dalam cerita Harry Potter and The Deathly Hollows, novel terakhir dalam serial Harry Potter karangan Joanne Kathleen Rowling. Tiga orang sahabat berhadapan dengan Kematian yang menyamar dan mengabulkan apapun permintaan mereka. Satu dari mereka meminta jubah tembus pandang yang membuatnya berhasil bersembunyi dari Kematian, yang telah menjemput dua orang lain. Ia berhasil mengelabui Kematian. Hingga pada akhirnya ia telah menua dan mewariskan jubah tembus pandang kepada anaknya, kemudian ia bertemu Kematian seperti sahabat lama.

Setelah kematian adik bungsu saya enam tahun yang lalu, saya merasa kematian ternyata tidak betul-betul asing bagi kita. Kematian adalah seorang kawan lama. Sahabat yang terus memantau dan mendampingi kita. Ia tidak berada jauh. Bahkan, ia sangat dekat. Mungkin ia selalu berdiri sepuluh sentimeter dari tengkuk kita. Mungkin ia merangkul pundak kita setiap saat dan melihat kita menemui teman-teman dan menonton film di bioskop atau minum kopi di kafe. Ia tidak asing dan ia tidak jauh.

Saya tidak pernah mencari kematian. Saya percaya, tidak perlu repot-repot mencari kematian, sebab ia sendiri yang akan menemui kita, di tempat yang tepat, waktu yang tepat, dan semoga untuk alasan yang tepat. Yang saya lakukan hanyalah menikmati kehidupan dan melakukan hal-hal yang membuat hidup (juga kematian) saya bermakna.

Seminggu yang lalu saya menonton film Rush, tentang pembalap formula-1. Ada sebaris dialog yang saya ingat di sana: “The closer you are to death, the more alive you feel.” Artinya: semakin kau mendekati kematian, semakin kau merasa hidup. Saya merasa kalimat ini memberi jawaban yang tepat terhadap pertanyaan mengapa orang-orang bermain-main dan mencari pengertian akan kematian.

Kematian, hingga saat ini, masih berupa misteri jika dilihat dari tidak ada satu pun manusia yang tahu kapan kematian akan menghampirinya. Apakah kamu tahu kapan kematian akan menghampirimu? Mungkin kamu bisa memperkirakan kapan waktu kematianmu, tetapi kematian bisa saja datang lebih cepat atau lebih lama. Mungkin kamu ditodong oleh seseorang di pinggir jalan atau kamu hendak terjun dari puncak gedung atau menggantung dirimu dengan tali, tetapi lagi-lagi bisa saja kematian belum ingin menghampiri saat itu. Kamu mungkin terluka dan kamu tetap hidup.


Membuka Tangan untuk Kematian

Bulan November 2012, tahun lalu, saya mengalami kecelakaan motor yang cukup parah. Saat itu saya baru pulang dari mengantar kekasih saya ke terminal dan saya mengendari motor dengan mengantuk. Pada jalan sempit yang lengang saya tidak merasa akan menabrak sesuatu, hingga di perempatan kecil sebuah motor melintas dari arah kiri dan saya menghantam mereka dengan kecepatan 75 km/jam.

Untuk beberapa detik (atau menit, saya tidak tahu) saya tidak bisa berpikir apa-apa. Tiba-tiba saya sudah duduk di luar warung yang tutup dan orang-orang berkerumun di sekeliling. Saya melihat orang yang saya tabrak masih terbaring di pinggir jalan, dengan kaki, tangan, dan kepala yang berdarah. Saya melihat tanpa bisa berpikir. Saya berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Beberapa orang menanyai saya namun saya tidak bisa mendengar jelas dan mencerna ucapan mereka. Saya melihat telapak tangan kanan saya berdarah, begitu pula dengan telapak kiri. Bibir bawah saya berdarah dan kulitnya terkelupas, saya menyentuhnya dan tak merasakan apa-apa. Lengan kiri saya sepertinya telah terseret aspal, namun saya hanya melihatnya dan tak merasakan apa-apa juga. Saya hanya terdiam, bingung, dan masih mencoba mengingat apa yang barusan terjadi. Pada saat saya sadar telah terbaring di tempat tidur di rumah sakit dan luka di telapak tangan kanan saya dibersihkan oleh perawat dengan alkohol, barulah saya mendesis kesakitan.

Tujuh tahun sebelum peristiwa kecelakaan itu, saya melukai diri saya sendiri tanpa sengaja. Saya sedang mengeluarkan sepeda motor dari dalam rumah, dan ketika motor melewati pintu rumah, besi standar motor tersebut tersangkut di jempol kaki saya dan membuat kukunya tercerabut dari tempatnya. Darah segar menetes dari jempol kaki saya namun saya hanya melihatnya. Saya mencolek darah tersebut dengan jari telunjuk dan membauinya. Secara iseng, saya menjilat sedikit darah di telunjuk saya hanya karena penasaran dengan rasanya. Saya tidak merasakan apa-apa ketika peristiwa itu terjadi. Saat saya membersihkan dan mencuci luka tersebut dengan air dan menetesinya dengan betadine, barulah saya merasa kesakitan.

Saya rasa kematian tak berbeda jauh dengan dua peristiwa yang saya ceritakan barusan. Pada detik kematian menjemput kita, kita akan merasakan sesuatu yang nihil. Seperti tiba-tiba saja pikiran dan ingatan kita hilang atau dihilangkan. Kita tidak akan merasakan apa-apa. Tetapi, tentu saja, itu hanya dugaan saya.

Kebanyakan cerpen yang saya tulis bicara tentang kematian. Sesungguhnya, itu adalah salah satu usaha saya untuk mengakrabkan diri kematian, mengenalnya, agar saya tidak terlalu merasa takut terhadapnya. Manusia takut terhadap sesuatu yang tidak mereka ketahui. Dengan menulis cerita-cerita tentang kematian, saya mencoba untuk mengetahui sedikit lebih jauh tentang kematian dengan cara yang menyenangkan. Saya berharap, semakin sering saya menulis tentang kematian, semakin saya merasa akrab dengannya dan tak terlalu khawatir lagi ketika ia pada akhirnya menjemput saya.

Tetapi, saya toh masih merasa takut setiap kali naik pesawat terbang.

***

Renungan

Disuatu sore hari pada saat aku pulang sekolah dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta . Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut, ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang koran , Penyapu jalan, Tuna wisma sampai Pak polisi. Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…?? untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai disebrang jalan, setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. “De, boleh kakak bertanya? ” “silahkan kak,” “kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ketukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi, itu apa?”  “oh, itu bungkusan nasi dan sedikit lauk kak, memang kenapa kak?” dengan sedikit heran , sambil ia balik bertanya. “Oh tidak.. kakak Cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka. Apa kamu sudah lama kenal dengan mereka?” Lalu , Adik kecil ini mulai bercerita, “Dulu, aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma, setiap hari bekerja hanya mengharapkan belaskasihan banyak orang, dan seperti kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan, apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih , namun setelah ibu ku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik.Maka dari itu ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu , jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup , kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka. Yang ibu ku selalu katakan ' hidup harus berarti buat banyak orang ' karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu Kasih kepada sesama serta Amal dan Perbuatan baik kita , kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang , kenapa kita harus tunda. Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat , hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta. Apa yang kita bawa? ” Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati ku, saat itu juga aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, bahkan aku merasa tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada gunanya,dibandingkan adik kecil ini. Aku yang selama ini merasa menjadi orang hebat dengan pendidikan dan jabatan tinggi, namun untuk hal seperti ini, aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini.

Rabu, 30 Oktober 2013

Flashback :)

Jadi, pada postingan kali ini aku pengen flashback masa-masa SMP dan Ada beberapa foto pastinya yang masih aku simpan di Laptop. Niatnya sih mau aku share udah lama, berhubung aku udah pisah sama mereka dan aku (lagi) kangen mereka..... aku share deh :)

Ini teman-teman kelas 8A. I miss you so much guys!! :* {}



Ini sama teman-teman 9A. Berhubung kelas kami kelas Bilengual eh salah wkwk maksudnya Bilingual, jadi selama kelas 7, 8 dan 9 kita bareng-bareng teruuss {}


With D'HoHa ini sebutan genk pada anak-anak cewek di kelas kami... Cantik-cantik kan? Cherrssss Senyum pepsodent :p wkwkw


Sebenernya di dalam foto ini gak ada akunya sih hehe, tapi ini moment dimana kelasku jadi petugas upacara. dan bersyukurnya aku gak di pilih sebagai petugas... ahaha :))


Ini nih wajah-wajah para petugas upacara.Kece-kece apa culun-culun nih?=D


Kartini day! Yak... ini temanku Erlina, Feby, Intan dan Endri dan yang paling depan namanyaa Chaterin Debora Lasma Uli Silalahi..... huaahahaa.. i miss you so muchhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh :**


And finally... My best friend is...........................



Sebenernya di saat SMP itu aku gak milih-milih sahabat kok, mereka semua sahabatku,mereka saudarku {} Tapi sayang.. waktu memisahkan kita, dan saat itu lah aku memetik kesimpulan  untuk sebuah perpisahan janganlah kita berkata 'selamat tinggal' tapi berkatalah 'see you later :)'

Thanks My friends in SMP 5 Pati. I always love  & miss you now,tomorrow and forever.

Selasa, 29 Oktober 2013

Terus jalan walau tak akan sampai

Entah kenapa, setelah mendengar playlist Hp memutarkan alunan lagu “Bokuno Sakura” yang di nyanyikan oleh idol group JKT48 aku merasakan sesuatu yang berbeda saat mendengar lirik bagian “.. di bawah matahari aku berlari hari-hari masa muda...” kangen. Ya, hanya satu kata itu yang terucap. Kangen atau rindu adalah hal yang wajar bagi manusia, termasuk aku. Merindukan masa-masa SMP :’) kangen banget.... ya tuhan, seandainya waktu itu bisa berputar. Aku merindukan sahabatku, guru-guruku SMP. Kami sudah berpisah,  kami sudah tidak satu atap saat bersama-sama di kelas. Aku merindukan gurauan, senyuman, candaan dan kegilaanmu, sahabat. Tapi, waktu berkata lain. Saat kita diberi waktu banyak untuk menikmati sebuah kehangatan di masa-masa itu, kita sering melupakannya, dan meninggalkannya begitu saja. Padahal , setiap 1 detik di masa-masa itu aku tidak ingin melewatkannya . Sekarang semuanya tinggal kenangan. Hanya foto-foto yang tersisa. Tapi, aku percaya. Suatu saat kita pasti bertemu kembali. Kita bertemu di saat kita sudah mendapatkan cita-cita kita. Kita akan berpelukan erat melepas kerinduan. Biarlah hari ini sampai nanti aku berjalan dan mengejar cita-citaku. Ku ingin buktikan kepada orang yang membenciku, yang menghinaku, yang meremehkanku, Aku pasti bisa!
Aku akan membalasnya dengan senyuman .Senyuman kesuksessanku.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Traveling ke Waduk Gunung Rowo


Asikkk Jalan-jalan........ with Genk Ngek :)))

Ini cuma beberapa cuplikan foto-foto kami saat di waduk. Cuma bisa berharap bisa jalan-jalan lagi sama mereka. Seru-seruan lagi, gila-gilaan lagi. I love you my friends! dah ah, malah curhat jadinya wkwk
 Ini nih foto-foto kami jrengg jrengg :

'Ngenk' lagi ngenksis nih, yang pakai baju ungu itu ketua genk ngek, Cakep yak? :))


Ini pemandangan di sekitar waduk. 
 

Ini si cewek eksisnya yang overdosis, maklum sebagai seorang Fotografer abal-abal saya sih fine-fine aja kalau di suruh foto cewek satu ini. wkwk :p

Ntah apa yang menarik dari pohon pisang 'brodol' ini. wkwkwk


Ini pemandangan dari salah satu sisi waduk. Ada yang mau lompat dari sini?


Ini waduk gunung rowo kalau di lihat lebih dekat. Tapi sedikit ngeblurr :((


Secara sebagai seorang penggonceng, yang bermodal Hp, dan teman saya Yunny yang dengan setia menggoncengi saya yang berada pada posisi depan, maklum Yunny kan pembalap. Jadi ya gini saya asal jebret eh jepret dari belakang teman-teman saya yang sudah mirip semut naik montor


Noh dua cewek narsis lagi. Yunny and Nila. Cantik kan? mana yang cantik? Hah? yang pink? Cieee yang pinkkkkkkkkkkkkkk :D


Narsis (lagi) : 


Indahnya ciptaan tuhan :)


Coba aja di sekeliling jalan raya ada pepohonan seperti ini. Apa kata dunia?


Nah! Ini anggota genk ngek yang (lagi) narsis! 

Pemandangan indah~ ouoooo

Sekian curahan hati dan otak saya wkwkwk. Hunting ke waduk gunung rowo merupakan salah satu hal yang tak terlupakan menurut saya. Thanks for reading my posting guys! :)

Waktu

 Di ulang tahunku yang ke 17, sahabatku, Andre memberiku sekotak kecil kado yang terbungkus dalam kertas berwarna biru. Tumben sekali dia, biasanya hanya membungkusnya dengan kertas koran seadanya dan membuatku malas membukanya. Kado itu berisi jam tangan yang membuatku makin keren. Jam tangan pemberiannya itu selalu aku pakai untuk menghormatinya, dan untuk menghormati diriku sendiri.
Suatu hari, dia tiba-tiba cerewet mengingatkanku, “Jangan telat latihan deh daripada dihukum lebih kejam sama coach.”
“Aku sih nyoba gak telat, tapi keadaan malah ngebuat aku terpaksa telat.”
Ia menatapku serius, “Kalau aku uda nggak ada lagi, dan gak main lagi, apakah hari ini kamu bakal berusaha tepat waktu?”
Aku hanya menganga tanpa menjawabnya.
Ia beranjak dan meninggalkanku dengan senyuman yang tak seperti biasanya.
Sore itu, ketika matahari masih memamerkan cahaya kuningnya, aku memarkir motorku dan berjalan menuju lapangan basket.
“Tumben gak telat?” sindir Coach.
Aku hanya tersenyum pahit.
“Oh iya, dan tumben si Andre belum dateng?” katanya.
Tiba-tiba handphoneku berdering. Aku mengangkatnya. Mendengarkan seseorang yang sedang bicara diluar sana. Aku mengangguk, perlahan lalu menangis tak percaya. Kemudian aku berlari meninggalkan tempatku berlatih.
Aku menatapnya sambil sesekali mengusap air mataku sendiri yang sengaja aku biarkan tumpah dengan leganya.
Aku melihat jam tangan pemberiannya.
 “Jangan telat, ayo kita latihan,” kataku sambil memegang batu nisannya.
Waktu adalah hal yang kita anggap berharga namun sama sekali tak pernah kita manfaatkan sebaik mungkin, setepat mungkin. Menyesal adalah lawan kita tapi kita malah menganggapnya sebagai kawan. Ah, hidup kadang rumit. Bukan, bukan hidupnya yang rumit, tapi manusianya yang bikin rumit.

Ah udahlah. Hargai saja waktumu sebelum Tuhan mengambilnya.